Kompor Biomassa

 

REVOLUSI KOMPOR BIOMASSA GENG MOTOR IMUT

Kompor biomassa merupakan teknologi yang dikembangkan Geng Motor IMUT (GMI) sebagai solusi untuk menghilangkan ketergantungan akan minyak tanah. Kompor ini dapat menggunakan kayu dan briket sebagai bahan bakar. Kompor biomassa mulai dikembangkan oleh GMI tahun 2010 dan diberi nama Kompor Biomassa F. Sampai dengan sekarang, kompor biomassa telah mengalami pengembangan hingga seri yang ke 8. Saat ini telah dihasilkan lebih dari 400 unit kompor biomassa yang diproduksi dan dipasarkan oleh Koperasi Tapaleuk Geng Motor IMUT. Berikut adalah pengembangan kompor biomassa dari waktu ke waktu.

Kompor Biomassa F1

Kompor ini merupakan seri pertama yang dikembangkan. Bentuknya persegi dengan lubang dapur berbentuk lingkaran untuk memasukkan bahan bakar dari sisi atas dengan diameter kurang lebih 15 cm – 18 cm. Di sisi kompor terdapat lubang kecil berbentuk persegi 8 cm x 5 cm sebagai lubang pengeluaran abu. Lubang ini langsung terhubung dengan dapur. Di dasar lubang dapur ditempatkan besi jarang-jarang agar abu yang dihasilkan dari proses pembakaran tidak menumpuk di dasar dapur tetapi terus turun ke bawah menuju lubang pengeluaran abu. Bahan baku yang digunakan untuk memproduksi kompor ini adalah semen dan pasir sehingga kompor ini memiliki berat di atas rata-rata kompor pada umumnya yaitu berkisar 15 – 20 kg.

Kompor Biomassa F1. Sumber Foto : Yurgen Nubatonis

Kompor Biomassa F1. Sumber Foto : Yurgen Nubatonis

Kompor Biomassa F2

Kompor ini merupakan pengembangan dari seri yang pertama. Belajar dari seri pertama yang sangat berat, seri kedua menggunakan bahan yang ringan. Bahan yang digunakan adalah seng plat lokvom dengan ketebalan 0,4 mm. Bahannya yang tipis membuat kompor ini hanya memiliki berat 2 kg. Bentuknya mengadopsi bentuk moko, salah satu benda peninggalan prasejarah yang banyak terdapat di pulau Alor, NTT. GMI mencoba untuk menonjolkan unsur budaya dalam desain kompor biomassa kali ini. Untuk menjaga agar tidak terjadi produksi asap yang banyak, kompor ini didesain dengan 2 ruang turbulensi udara. Pada seri ini, kompor didesain dengan dua bagian utama yaitu rumah kompor dan dapur yang dapat dilepas. Namun saat dilakukan uji coba ternyata bahannya tidak tahan terhadap panas yang dihasilkan dari proses pembakaran. Akibatnya kompor ini tidak diproduksi massal .

Kompor Biomassa F2. sumber Foto : Yurgen Nubatonis

Kompor Biomassa F2. sumber Foto : Yurgen Nubatonis

Kompor Biomassa F3

Pada seri ini, pertimbangan untuk menghasilkan kompor yang ringan tetap dipertahankan. Namun belajar dari seri sebelumnya maka dipilih bahan yang lebih tahan terhadap panas. Bahan yang digunakan adalah plat eser dengan ketebalan 0,9 mm. Bentuk moko pada seri sebelumnya tidak dapat dipertahankan pada seri ini karena perbedaan jenis dan ketebalan bahan yang digunakan. Oleh karenanya bentuknya dirubah menjadi tabung dengan dua lapisan yaitu rumah kompor pada lapisan terluar dan dapur pada lapisan terdalam. Dapurnyapun didesain menyatu dengan rumah kompor sehingga tidak dapat dilepas. Dari hasil uji coba, bahan yang digunakan tahan terhadap panas sehingga dapat digunakan dalam jangka waktu yang panjang. Namun desain ini belum dirasa maksimal karena produksi asap yang masih banyak sehingga perlu pengembangan lagi.

Kompor Biomassa F3. Sumber Foto : Yurgen Nubatonis

Kompor Biomassa F3. Sumber Foto : Yurgen Nubatonis

Kompor Biomassa F4

Pada seri ini fokus pengembangan adalah pada pengurangan produksi asap dari hasil pembakaran. Oleh karenanya pada seri ini kompor didesain dengan 3 sistem penyaringan asap sehingga kompor seri ini memiliki 3 lapisan. Juga ada pemikiran untuk membuat dapur yang dapat dilepas seperti pada seri yang kedua. Hal ini dikarenakan usia pakai dapur yang lebih pendek dari rumah kompor sehingga tidak perlu dilakukan penggantian total jika terjadi kerusakan pada dapur. Dari hasil ujicoba, kompor seri ini dapat dikatakan seri yang sempurna karena  memiliki 3 keunggulan utama. Produksi asap yang dihasilkan sangat minim, bahan bakar yang digunakan sangat hemat, dan waktu masak lebih cepat jika dibandingkan dengan jenis tungku kayu api dan kompor biomasa lainnya. Namun ada lagi pemikiran untuk membuat desain kompor ini lebih sempurna dengan membuat isolator panas pada dinding rumah kompor. Sehingga lahirlah seri berikut.

Kompor Biomassa F4

Kompor Biomassa F4. Sumber Foto : Yurgen Nubatonis

Kompor Biomassa F5

Pada seri ini tidak ada perubahan dari sisi bentuk kompor, kecuali ditambah isolator menggunakan bata merah di ruang turbulensi terluar. Namun saat diujicoba ternyata tidak terjadi peredaman panas yang signifikan. Ide tentang isolator pada kompor akhirnya tidak dimasukkan dalam desain kompor biomassa.

Kompor Biomassa F6

Pada seri keenam, perbaikan dilakukan pada rumah kompor yang dibuat sedikit lebih pendek dari seri sebelumnya dan dapur dibuat lebih lebar agar tetap dapat menampung volume bahan bakar yang sama. Pada seri ini pula lahir ide untuk membuat satu lagi dapur khusus untuk briket yang bisa digunakan pada rumah kompor yang sama. Perbedaannya dengan dapur biomassa adalah pada ruang penyaringan asap. Dapur biomassa memiliki 2 ruang penyaringan asap sedangkan dapur briket hanya memiliki satu ruang. Seri ini adalah seri pertama yang diproduksi massal untuk dijual.

Dapur Biomassa F6. Sumber Foto : Yurgen Nubatonis

Dapur Biomassa F6. Sumber Foto : Yurgen Nubatonis

Kompor Biomassa F6. sumber Foto : Yurgen Nubatonis

Kompor Biomassa F6. sumber Foto : Yurgen Nubatonis

Kompor Biomassa F7

Pada seri ini tidak hanya terjadi perubahan pada tinggi dudukan periuk/ wajan dari 3 cm menjadi 9 cm. Hasilnya adalah api lebih fokus pada dasar periuk, tidak seperti seri sebelumnya di mana api menyebar hingga ke sisi periuk. Namun ada catatan dari pengguna tentang  ukuran diameter penutup dan tiang penyaringan asap yang tinggi membuat pengisian bahan bakar menjadi sulit.

Kompor Biomassa F7. Sumber Foto : Yurgen Nubatonis

Kompor Biomassa F7. Sumber Foto : Yurgen Nubatonis

Kompor Biomassa F8

Berdasarkan masukan dari pengguna tersebut, pada seri ini perbaikan dilakukan pada bagian penutup atas kompor dan dapur biomassa. Diameter dapur diperpanjang dan tabung penyaringan asap dalam dapur biomassa diperpendek ukurannya sehingga lebih memudahkan dalam pengisian bahan bakar. Saat ini seri F8 sedang diproduksi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s