“Mahasiswa Hebat Berani Bermimpi”

LKMM Fapet Undana difasilitasi Geng Motor IMUT

Setelah beberapa kali diminta oleh BEM Fapet Undana untuk menjadi pembicara, Geng Motor IMUT kembali diminta untuk terlibat pada kegiatan BEM Fapet Undana. Kali ini Geng IMUT diberi kepercayaan untuk memfasilitasi Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa. Setelah beberapa kali diskusi persiapan dengan panitia dan pengurus BEM di Sekretariat Geng Motor IMUT, disepakati tanggal 19-20 Desember 2014 sebagai waktu pelaksanaan kegiatan LKMM dengan mengusung thema “Mahasiswa Hebat, Berani Bermimpi”. Kegiatan dilaksanakan dua hari bertempat di ruang E1 Fakultas Peternakan Undana.

20141220_144458

Proses pelatihan ini akan dikemas dalam bentuk visioning yang akan diperkaya dengan ilmu tentang kepemimpinan dan manajemen. Ini proses yang luar biasa yang tidak didapatkan di tempat lain. Saya berharap kawan-kawan tidak menyia-nyiakan kesempatan ini” kata Marsel Hambakodu, Ketua BEM Fapet. Hal senada juga disampaikan oleh Yakob Noach, Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan saat membuka LKMM “Teman-teman dari Geng Motor IMUT sudah memfasilitasi banyak kegiatan di dalam dan luar NTT sehingga saya berharap ada kontribusi positif dari mahasiswa sebagai calon pemimpin bagi perkembangan Fakultas Peternakan yang makin maju lewat proses ini”.

 20141220_163808

Ada 7 orang dari Geng Motor IMUT yang terlibat untuk memfasilitasi LKMM, yaitu Yurgen, Donald, Semi, Sete, Eman, Jack, Depa. Hari pertama dimulai dengan sesi perkenalan, brutal reality yang diperkaya dengan ilmu manajemen konflik dan sesi mengenal potensi diri dan lingkungan. Peserta sangat antusias dan menikmati setiap sesi karena dilibatkan secara aktif dalam setiap sesi. Hari kedua diawali dengan sesi membangun mimpi yang diperkaya dengan ilmu kepemimpinan, design yang diperkaya dengan ilmu hakikat berorganisasi dan diakhiri dengan sesi destiny dimana masing-masing peserta merencanakan aksi kreatif secara berkelompok yang ingin dilakukan di kampus Fapet selama tahun 2015.

 20141220_145510

Fapet yang hijau dan nyaman dengan akses internet yang mudah, fasilitas praktikum dan perpustakaan yang memadai, sarana pengembangan minat dan bakat yang lengkap merupakan mimpi yang dikemukakan masing-masing kelompok saat mendiskusikan fapet impian 2020. Beragam aksi kreatif dilahirkan saat diskusi perencanaan aksi kreatif di tahun 2015 yang dikemas dalam bentuk kampanye dekan Fapet menuju satu mimpi yang paling ingin segera diwujudkan. Kita akan buat kotak sampah di setiap sudut kampus dengan tagline tong kosong nyaring bunyinya, tong sampah terisi, bersih kampusku Erik, juru bicara salah satu kelompok melaporkan hasil diskusinya. Kita punya rencana kegiatan yang sama dengan kelompok Erik. Kami juga akan membuat kotak sampah dan kami lengkapi aksi kami dengan menjual sampah kita ke Bank Sampah. Dananya akan dijadikan sebagai kas BEM, Desti melaporkan hasil diskusi kelompoknya.  Lain lagi dengan kelompok Augusto dan Ambu Lika. Mereka berencana membuat taman kampus dan menanam pohon-pohon yang rindang agar menjadi tempat bercengkerama. Onis dan kelompoknya berencana membuat lopo belajar sebagai tempat diskusi yang nyaman bagi mahasiswa dan dosen. Maria dan kelompoknya berencana membuat kantin yang dikelola oleh mahasiswa yang dilengkapi dengan buku bacaan sebagai referensi tambahan bagi mahasiswa selain perpustakaan Fakultas. Sedangkan kelompok Ormawa berencana membuat peternakan babi dan ayam yang dikelola secara mandiri oleh ormawa sebagai sumber keuangan ormawa. Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan mengaku senang dengan berbagai aksi kreatif yang direncanakan mahasiswa. Saya melihat energi yang positif bagi kemajuan Fapet. Saya senang mahasiswa mau berkontribusi secara sukarela bagi pengembangan kampus ini. Saya melihat perubahan yang besar sedang berlangsung di Fapet saat ini. (Yurgen).

Iklan

Geng IMUT jadi referensi belajar siswa dan mahasiswa.

“Senang dan sangat terinspirasi dengan aktifitas teman-teman”

Di awal berdirinya, tidak ada yang menyangka Geng Motor IMUT akan begitu cepat diterima dan menjadi laboratorium kecil dunia pendidikan di Kota Kupang. Di bulan ini, 4 lembaga pendidikan mengunjungi Geng Motor IMUT untuk belajar tentang teknologi sederhana di bidang energi yang dikembangkan Geng Motor IMUT.

*****

stikom

Tidak seperti biasanya, lokasi yang biasanya ribut oleh bunyi mesin dan ketukan palu berganti dengan suasana diskusi yang hangat. Lokasi yang tidak seberapa luas itu dibagi dalam beberapa bagian, ada pos untuk desalinator, pos untuk biogas, pos untuk kompor biomassa, pos untuk minyak VCO dan pos untuk pupuk organik. Itulah suasana sekretariat Geng Motor IMUT di bulan November ini. Di bulan ini Sekretariat Geng Motor IMUT benar-benar dimanfaatkan sebagai laboratorium energi bagi beberapa lembaga pendidikan di Kota Kupang. Tercatat 4 lembaga pendidikan datang mengunjungi Sekretariat Geng Motor IMUT. Diawali dengan kunjungan mahasiswa baru Fakultas Peternakan Undana bersama pengurus BEM pada tanggal 15 November 2014, lalu mahasiswa Fakultas Teologia UKAW Kupang, siswa SMP Sekolah Abdi Kasih Bangsa pada tanggal 18 November 2014 serta Mahasiswa Stikom Uyelindo Kupang dan Sekolah Alam Noelbaki pada tanggal 28 November 2014.

Arlen

Beragam respon positif disampaikan oleh mereka yang datang ke Sekretariat geng Motor IMUT. “Ternyata limbah ternak dapat dimanfaatkan menjadi biogas dan mengurangi masalah limbah serta kelangkaan energi. Ini ilmu baru bagi saya” kata Novi salah satu mahasiswa baru Fakultas Peternakan Undana di pos Biogas. Sedangkan Jimy, juga mahasiswa fapet di pos kompor biomassa mengaku tertarik untuk bergabung dengan Geng Motor IMUT. Rio, siswa SMP SAKB mengaku senang bisa berkunjung langsung ke sekretariat geng Motor IMUT karena bisa belajar banyak hal. “Waktu masih SD di SAKB, kakak-kakak dari Geng Motor IMUT pernah mengajari kami cara membuat briket arang, hari ini saya datang langsung dan belajar lebih banyak lagi” kata Rio. Itje Inabui, Principal Sekolah Abdi Kasih Bangsa sangat terkesan dengan inovasi yang dihasilkan Geng Motor IMUT dan memuji teman-teman Geng Motor IMUT karena mampu menciptakan teknologi yang sangat bermanfaat. Saat pulang, beliau membeli beberapa botol minyak VCO dan berjanji untuk merekomendasikan Koperasi Tapaleuk Geng Motor IMUT kepada rekan-rekannya jika ingin membeli minyak VCO.

teologia

Kita bisa gabung dengan geng motor IMUT kah ?” tanya Joao, salah satu siswa sekolah alam. “Saya juga mau ikut kalo ada sekolah jalanan di kampung-kampung”  lanjutnya. Pendapat senada juga dilontarkan oleh siswa sekolah alam yang lain. Mereka sangat senang dan ingin belajar berbagai inovasi yang dihasilkan Geng Motor IMUT. “Ini teknologi yang baik dan ramah lingkungan, kita akan usulkan ke Fakultas untuk menggunakan biogas dan kompor biomassa di Asrama Teologia UKAW” kata Ida mewakili teman-temannya yang memilih teknologi karya Geng Motor IMUT sebagai tema seminar mereka tentang Hubungan Iptek dan Agama.

sete

Demikian juga halnya dengan Maria, Devi, Yus dan Ina dari Stikom Uyelindo Kupang yang datang untuk mendokumentasikan proses pembuatan kompor biomassa dan biogas sebagai proyek akhir semester mereka. Mereka kagum dan senang dengan keberadaan Geng Motor IMUT. “Kami akan ajak teman yang lain untuk datang lagi ke sini. Filmnya akan kami unggah ke media sosial biar makin banyak yang kenal dengan Geng Motor IMUT dan inovasinya” kata Maria yang bertugas sebagai kameramen. “Senang dan sangat terinspirasi dengan aktifitas teman-teman di sini.” katanya saat akan pulang. (yurgen)**

Geng Motor IMUT mengajar di Kupang Berkebun

Bertempat di Kantor Perkumpulan Pikul, Jl. Cak Doko, Oebobo – Kupang, Yurgen Nubatonis dan Ofry Tamelab dari Geng IMUT berbagi materi sekolah jalanan tentang pertanian organik dan praktek pembuatan bokashi serta perbanyakan EM4. Diskusi yang berlangsung tanggal 26 Juli 2013 tersebut diawali dari latar belakang munculnya ide pertanian organik yang mulai digagas tahun 1930-an oleh Sir Albert Hobard, sejarah penggunaan pupuk dan pestisida anorganik di dunia, sejarah penggunaannya di Indonesia dan NTT. “Sadar atau tidak, saat ini semua barang yang kita makan semuanya berasal dari luar. Bibit sayur yang papa-mama tanam lalu jual dan kita makan, datang dari Jawa, bawang dari China, beras dari Sulawesi, Jagung dari surabaya, Kedelai untuk tempe datang dari Brasil. Itu sebabnya, ide tentang Kupang Berkebun ini digagas, Yurgen membuka diskusi hari itu.

Diskusi mulai berlangsung panas ketika masuk ke dampak buruk penggunaan pupuk anorganik. “Di rote ada satu (sebuah) danau, di wilayah perbatasan antara Ti dan Dengka. Di bagian atas danau itu adalah hamparan sawah. Dulu banyak sekali rumput yang hidup di dalam danau itu, tapi sekarang semau sudah mati. Jangan-jangan itu karena penggunaan pupuk dan pestisida yang tidak terkontrol di areal sawah tersebut”, bapak Lasarus Ledoh dari Kelurahan Airnona berbagi pengalamannya. Bapa Tinus dari Oesao juga berbagi pengalamannya. “Baru-baru ini ada beberapa teman yang melakukan pengeboran air di areal persawahan Oesao, namun air yang dihasilkan berwarna kekuning-kuningan sehingga tidak mereka gunakan. Jangan-jangan ini juga karena penggunaan pupuk dan pestisida di sana”. Beberapa ibu juga berbagi pengalaman mereka dimana setiap tahun selalu terjadi peningkatan pemberian dosis pupuk pada luas areal yang sama namun produksinya terus menurun. Di akhir diskusi, Bapak Lasarus Ledoh menyampaikan kekecewaannya terhadap pemerintah terkait ijin produksi dan kontrol terhadap pupuk dan pestisida anorganik.

Sesi praktek pembuatan bokashi dan perbanyakan EM4 dipandu oleh Ofry Tamelab dibantu teman-teman Kupang berkebun. Para peserta sangat senang dan antusias dengan proses tersebut. Ofry diminta mengulang beberapa tahapan pembuatan pupuk karena mereka ingin benar-benar paham. “Kita senang sekali dengan materi hari ini, kita akan buat sendiri lagi di Kelurahan kita” kata Ibu Marta dari Oebobo dan peserta yang lain. (yurgen).